Komitmen
sebuah kalimat yang saya ucapkan pertama kali kepada seseorang yang saya rasa dialah orang yang terbaik, terakhir dan akan aku ajak untuk menerjang kehidupan bersama denganku. banyak khayalan-khayalan atau rencana yang terpikirkan dalam otakku, mungkin terasa indah dan bahagia jika terwujud. Banyak rencana rencana yang kita obrolkan setelah saya mengajaknya untuk berkomitmen, ada kesamaan untuk beberapa rencana dan adapun hal yang beda dengan keinginan saya, ada juga yang dia tidak setujui dan saya mencoba merendah dan meng-iyakan apa yang dia inginkan sekalipun beda dengan keinginanku, semakin kesini aku mencoba mengerti semua keadaan dia dan coba merendah demi kebaikan kita.
Dalam perjalanan komitmen beberapa bulan berjalan dengan baik, hanya ada pertengkaran kecil, perdebatan kecil, dan kadangpun ada pertangkaran besar tapi tetap komitmen membuat saya bertahan. Mungkin untuk segelintir orang hal seperti itu udah ada yang bilang gak sehat hubungan seperti itu, ada yang bilang ngak cocok, dan yang paling parah udah putusin aja hubungan kok seperti itu. Lucu sih kadang dengan orang orang yang berpikir seperti itu, dalam sebuah hubungan kalau tidak bertengkar itu aneh rasanya, kalau tidak berdebat itu juga aneh rasanya, yang terpentingkan tidak main tangan atau kekerasan.
Krikil krikil kecil dalam sebuah komitmen/hubungan itu sangat wajar, gimana kita menyikapinya dan bagaimana kita dapat berkomunikasi yang baik untuk mnyelesaikan permasalahan. Terkadangpun beberapa ada yang susah untuk dikomunikasikan dan semua itu kembali keego kita masing masing, ibaratnya ketika salah satu ada yang menjadi api satunya harus berusaha menjadi air dan begitu sebaliknya agar komitmen tetap berjalan dengan baik.
Memasukin tahun pertama mulai banyak pertengkaran pertengkaran besar yang sangat membahayakan komitmen kalau ego saya tinggikan. Ketika mendapatkan permasalahan seperti ini saya mencoba untuk merendahkan ego saya agar tidak terjadi hal yang tidak saya inginkan yang terlontar dari mulutnya. Tetapi sesekali juga ego saya naik hanya untuk ingin tau seberapa serius dia dengan komitmen ini, dan seberapa sabar dia menghadapi saya. Lambat laun dia juga bisa mengimbanginya dan semua berjalan sesuai keinginan dan rencana saya.
Memasuki pertengahan tahun pertama muncullah orang yang disebut dengan buaya, sosok yang selalu mencoba membahagiakan wanita hanya dengan rayuan dan gombalan. banyak buaya buaya yang mau mengoyahkan komitmen yang saya pertahankan ini, dan sayapun masa bodoh dengan semua itu, yang terpenting kamu tau batasan batasan saat berkomunikasi dengan buaya buaya tersebut.
Memasuki tahun kedua mulai tinggi tingginya ego kita berdua, sesekali pertengkar atau perdebat hebat kita sama sama tidak mau menurunkan ego, dan akhirnya saling diam. Tidak ada yang mau mengalah, saya mencoba berpikir siapa yang salah dan siapa yang harus minta maaf dulu untuk memperbaiki semua ini. Lama lama aku mencoba untuk mengalah dan terkadangpun dia juga mengalah, tapi hanya beberapa saat saja seterusnya saya yang merendahkan ego dan selalu minta maaf. Saya mencoba untuk mengalah meskipun dia yang salah, meskipun dia yang berbuat kesalahan.
Lambat laun kesabaran ini habis dan saya ingin mencoba apakah ketika saya berubah dia bertanya? apa ketika saya ada apa apa dia bertanya? ataupun ketika saya sibuk apakah dia mencari saya? dan semua yang saya lakukan itu tidak mendapatkan hasil yang sesuai dengan keinginan saya malah saya yang dituduh dan dicurigai.
Memang harus kah salah satu aja yang berjuang? apa harus juga salah satu yang membangun semua? tanpa satunya untuk membantu atau memberi semangat? dan lalu untuk apa meng-iyakan komitmen kalau memang tidak bisa berjalan atau berlari bersama. Untuk apa selama ini aku mengalah demi menjaga pondasi komitmen agar tidak runtuh. Semakin coba kamu menjaga komitmen semakin dia menjadi jadi untuk meruntuhkan semuanya.
Dan pada tahun kedualah semuanya runtuh semua sudah hancur sudah porakporanda, susah untuk diperbaiki bukan berarti tidak bisa diperbaiki, semua kembali ke saya dan dia. Dan saya ingat saya pernah dengar dari sahabat akrab saya dia pernah berkata "APA YANG KAMU GENGGAM ERAT ITU TIDAK BAIK" dan aku mengenggam terlalu erat sampai sampai tidak baik buat diriku dan keadaanku.